Can you promise me if this was right?
Laki-laki itu merenung sendirian
di bangku taman sekolah sebelum seseorang menghampirinya. Gadis itu duduk tepat
disampingnya. Beberapa menit mereka duduk bersebelahan, tak ada yang memulai
percakapan. Bahkan, tak ada sapaan yang biasanya mereka lakukan. Entah apa yang
ada dalam pikirannya masing-masing.
“Ada apa?”, tanya laki-laki itu
membuka percakapan.
“Tidak. Tidak ada apa-apa. Kau
tak suka aku disini?”
Laki-laki itu hanya diam. Lalu
menatap lurus ke depan, tanpa menoleh sedetikpun pada orang yang berada
didekatnya.
“Tak usah cerita jika kau tak
mau.”, ucap gadis itu.
“Kau tahu tidak rasanya
melepaskan saat masih butuh genggaman?”, tanya laki-laki itu masih dengan
tatapan lurus ke depan.
Dengan rasa penasaran, gadis itu
mencari jawaban yang tepat untuk menjawabnya. Ia takut akan resiko-resiko yang
terjadi pada tiap kata yang ia keluarkan.
“Ya, aku tahu”, jawabnya
sesingkat mungkin.
“Aku membutuhkan genggaman itu
lagi. Apa ini tak terdengar egois?”, tanya laki-laki itu sambil menatap pada
gadis disampingnya.
“Menurutmu?”
“Aku tahu, aku egois. Ingin
menarik kembali apa yang telah aku biarkan pergi. Apa yang telah aku lepaskan.”
“Jadi? Kau berharap apa yang
telah kau lepas, kau genggam kembali?”
“Ya, seperti itu.”
“Bahkan setelah kau punya
genggaman baru, kau masih saja berharap?”, ucap gadis itu sambil mengatur
intonasi suaranya.
Kemudian hening. Hanya suara
gerimis yang mulai terdengar. Guyuran air hujan, tetap saja membuat mereka tak
beranjak sama sekali dari tempat duduknya.
Does he sing to all your music
While you dance to purple rain?
Dari kejauhan, seorang gadis melihat ke arah mereka. Tatapan marah
sepertinya. Lalu tatapan dua gadis itu bertemu. Yang ditatap tahu apa arti
tatapan itu.
“Apa tak akan ada genggaman yang
sama untuk kedua kalinya? Kau tahu, bagaimana aku membutuhkan itu. Terdengar
egois memang. Tapi, aku benar-benar butuh genggaman kuat itu. Kau tahu?
Genggaman yang sama tak akan terjadi pada orang yang berbeda. Kekuatanku
kutitip padamu, jangan beri siapa-siapa, tolong. Maaf, aku merindukanmu”.
Dengan senyuman, laki-laki itu
berjalan menemui gadis yang sedari tadi berdiri di sana. Ia tahu, laki-laki
punya jiwa petualang.
Will she love
you like I loved you?
Will he tell
you every day?
Will he make
you feel like you’re invincible
With every
word she’ll say?
“Sepertinya, aku juga merindukannya.”, gumam gadis itu.
Can you
promise me if this was right
Don’t throw
thiss all away
Can you do
all these things?
Will you do
all these things?
Like we used
to
0 komentar:
Post a Comment