Ada kubaca dijurnalnya orang-tp selaluka menulis
disitu: “jika kamu dibuat kuat dan jatuh oleh orang yang sama, bangkitlah lagi
dengan menolak uluran tangannya, sekali lagi.”
How a good quote.
Ya, benar memang.
Saya heran, bagaimana pola pikir orang yang
seperti ini? Tidakkah bisa untuk fokus pada satu tujuan saja? Jika ingin
membuat jatuh, tolong tak usah dikuatkan. Toh, ujung-ujungnya kekuatan itu
hilang. Adakah keegoisan dalam hal ini? Mungkin saja.
Ketika kau punya pegangan, pada saat yang sama kau
dilepaskan. Menyakitkan bukan?
Dan ketika kau mencoba bangkit tanpa tumpuan lagi,
masih saja kau dibuat tak nyaman. Betapa hal itu sangat melelahkan.
Bagaimana dengan sebuah ketakutan?
Kau pernah tidak merasakan ketakutan terbesar? Ya,
pasti pernah. Tapi, apakah kau pernah mengetahui ketakutan terbesar orang lain?
Orang yang bahkan sama sekali tak pernah membuat kau merasa nyaman? Kau tak
tahu rasanya? Biar kuberitahu nanti.
Bagaimana mungkin saya tidak merasakan ketakutan
itu. Saya dibuat nyata dalam zona-nya, padahal nyatanya saya sama sekali tak
ada disana. Sosok saya hanya abu-abu, namun dibuat jelas. Yang seharusnya sudah
lenyap, dibuat muncul lagi. Membuat ketakutan tersendiri rupanya. Kalau begitu,
waspadalah. Saya selalu punya alasan untuk membuat ketakutan itu nyata. Saya
selalu punya alasan untuk membuat ketakutan besar itu, menjadi sebuah kekuatan
yang lebih besar. Maaf saja, kawan. Biarkan keegoisan menjadi benteng
pertahanan kita. Setuju atau tidak, saya tetap teguh bersama benteng itu. Saya
tak akan mundur, tapi sebagai bentuk penghargaan saya, saya tidak akan maju
lebih dulu. Cukup menyaksikan saja. Selamat bermain. Saya senang dengan
permainan ini.

0 komentar:
Post a Comment