Aula sekolah, 17september2013.
(dalam buku catatan harian sekolah)
Apa kabar kamu--pemilik tgl17--?
Sudah lama tak saling tahu kabar
Sejak 2 bulan yang lalu, mungkin?
Better than before yak. Better that we break. HAHA. Harus di'? Sesuai janji awal;)
Btw, 12ipsPlus, are you remember?
And now, dalam satu ruangan yang sama, ada beberapa nama yang--sebelum tidak ada lagi tgl4 di bulanbulan setelahnya--biasa kita jadikan bahan pembicaraan
Saya pikir, kamu tahu itu.
Untuk sebuah keputusan, pada saat itu kita memilih untuk berhenti. "Sebelumnya baik-baik, setelahnya juga harus baik-baik, bukan?;)"
Dengan seragam yang sama (re: putih abu-abu). Me and you feel different after that. Nassami toh?:D
Menjadikan suatu kebiasaan yang sebelumnya tidak menjadi kebiasaan, tapi terpaksa menjadi kebiasaan, ternyata tidak mudah seperti yang dipikirkan dan tidak mudah seperti yang dibayangkan:)
Slmttgl17btw!
Ini Hanya Rutinitas Singkat...
Terjadi rutinitas beberapa hari belakangan ini. Tidak ada harapan seperti ini sebelumnya. Darimana ini berawal? Adakah keputusan untuk berkata ya pada percakapan sebelum awalnya? Saya rasa tidak. Hanya mengikuti keadaan dimana kita ditempatkan hingga pada akhirnya berakhir dimana. Demi apapun, saya menyetujui dan menerima apapun yang terjadi berdasarkan hukum-hukum alam.
Seperti yang pernah saya posting di facebook; "Terjebak dalam pilihan itu, ya harus memilih; ini atau itu, ya atau tidak. Berada ditengah-tengah itu, egois namanya." Untuk rutinitas ini, saya memilih tidak dan dilanjutkan dengan kata berhenti. Tanpa menunggu resiko, saya sudah siap untuk sebuah resiko. Ini hanya rutinitas singkat.
Thankyou buat ratusan conversationnya. Untuk 4menit17detik pertama dan 15menit39 detik berikutnya, makasiiih;)
Teh kotak? see next time!
Our Conversation
Jika saya berpikir ini tidak lebih menarik dibanding
mengerjakan tugas, postingan ini tidak bakalan ada:)
Dimulai dengan niat saya untuk membuat kegaduhan
dipesan handphonenya, tetapi ternyata tidak membuat gaduh, maka saya
menggantinya dengan kalimat “nama saya tertera disana”, dan nyatanya jelas.
Nama saya terbaca dipesan handphonennya\m/
Dari sekian banyak kata demi kata yang kami rangkai
hingga membentuk kalimat. Kami menciptakan 105 percakapan dalam kurun waktu
beberapa jam. Tanpa menghilangkan rasa hormat saya kepada yang lebih tua
setahun, saya memberitahunya terlebih dahulu sebelum membuat postingan ini;)
toh kak?=D. Dari 105 percakapan, kami membahas beberapa hal. Diawali dengan buku,
yang membuat penggemar penulis Raditya Dika ini (yang maunya kalo ulang tahun dibelikan
novel terbitan paling lamanya Kambing Jantan) harus rela meminjamkan salah satu
buku yang katanya menarik buat dibaca. Samurai Pengasih bede judulnya:D
“Pembahasan
kita malam ini buku ya’”
“Haha
iya. Lebih bermanfaat dibanding bicara soal hati;)”
Pembahasan kami yang kedua, dimulai dari percakapan
tersebut.
“Makanya
saat ini mencobaka’ untuk maknai itu dan ternyata susah.”
Dan…hanya kami yang tahu makna dari kalimat
tersebut. Di’ kak?B-)
By the way, thankyou buat rock conversationnya. Salam
perbedaan, kak Badrul!;)
Gbye!
Minggu, 18 Agustus. 00:47 am.
Kamu tahu rasanya menerima sebelum kau benar-benar siap? Aku tahu. Dan rasanya tidak berada disana padahal nyatanya kau ada, di dekatnya. Kau tahu rasanya? Jika tidak, cobalah bayangkan. Tapi, yang paling menarik adalah; mengikhlaskan secara elegan;)
Sebelumnya kan, baik-baik saja. Setelahnya harus baik-baik juga bukan? I just remember this sentence.
Dengan mudahnya mengucapkan selamat tanpa rasa apapun dengan keadaan yang luar biasa baik. Artinya, itu bisa dan ikhlas. Menjadi seperti sebelumnya dengan modal dan rasa persahabatan;)
Ya, ada jarak memang. Tapi, bukankah jarak punya batas? Saya tahu dan sebisa mungkin tidak melanggar yang seharusnya. Dan yang hanya sekedar menyimak, hanya tahu sepenggal ceritanya dan hanya menebak apa pikiran saya tanpa tahu yang semestinya:D
Sebelum, saatnya, dan setelahnya, masing-masing punya cerita dan kenangan. Apapun itu, punya tempat tersendiri:')
Kamu tahu rasanya menerima sebelum kau benar-benar siap? Aku tahu. Dan rasanya tidak berada disana padahal nyatanya kau ada, di dekatnya. Kau tahu rasanya? Jika tidak, cobalah bayangkan. Tapi, yang paling menarik adalah; mengikhlaskan secara elegan;)
Sebelumnya kan, baik-baik saja. Setelahnya harus baik-baik juga bukan? I just remember this sentence.
Dengan mudahnya mengucapkan selamat tanpa rasa apapun dengan keadaan yang luar biasa baik. Artinya, itu bisa dan ikhlas. Menjadi seperti sebelumnya dengan modal dan rasa persahabatan;)
Ya, ada jarak memang. Tapi, bukankah jarak punya batas? Saya tahu dan sebisa mungkin tidak melanggar yang seharusnya. Dan yang hanya sekedar menyimak, hanya tahu sepenggal ceritanya dan hanya menebak apa pikiran saya tanpa tahu yang semestinya:D
Sebelum, saatnya, dan setelahnya, masing-masing punya cerita dan kenangan. Apapun itu, punya tempat tersendiri:')
Selamat malam,
I'm good in goodbye, always;)
Disini, aku merindukanmu
Disini, aku merindukanmu.
Inikah rindu yang benar-benar rindu? Rasa yang beradu walau
raga tetap menolak? Menolak hadirnya yang hanya membawa ulangan
kenangan-kenangan manis? Kenapa harus mengulang kenangan yang begitu banyaknya,
yang begitu lamanya, hanya dalam waktu sesingkat ini? Adilkah? Kenapa rindu ini
tak peduli seberapa hebatnya kita yang kini memisahkan diri? Kita yang
masing-masing kini memulai cerita baru tanpa menyisihkan cerita lama? dan kita
yang kini bahagia dalam dekapan doa masing-masing? Aku benci dengan situasi
ini. Dimana saat aku merindukanmu sedalam ini, membutuhkanmu sebutuh ini, dan
mengingatmu dalam keadaan yang tak lagi sama.
Maaf, aku merindukanmu. Aku merindukanmu bukan aku ingin
mengganggu cerita barumu. Ini hanya rasaku saja. Rasa yang tidak ku harapkan,
namun tak bisa ku tolak hadirnya.
I miss you, here.
Subscribe to:
Posts (Atom)