Note #17

{ Friday, July 25, 2014 }
Aku tahu apa yang telah dan sedang terjadi,
karena aku terlalu mengenalmu.

Penawar kesakitan; kekuatan

{ Monday, July 21, 2014 }


Tentang hati dan tentang kekuatan..

Kau pernah bilang, kau lebih kuat dari yang kau inginkan. Saat itu, sangat jelas. Kau benar-benar kuat, nampaknya tak ada lagi beban di pundakmu. Tak ada lagi yang membebani hatimu.

Namun, di tengah-tengah kekuatanmu, ada saja celah yang menyelip masuk mengganggu benteng pertahananmu. Lagi-lagi kau luruh. Hingga kau mencoba berdiri kembali dengan bantuan beberapa orang yang rupanya baru kau ketahui bahwa sebagian kekuatanmu ada pada mereka. Mereka selalu tahu menambah kekuatanmu dengan cara mengurangi bebanmu. Perlahan-lahan celah itu tertutup kembali. Cahaya pun muncul memenuhi hatimu.

Hingga suatu hari, cahaya itu mulai redup. Kau takut jika cahaya itu menjelma menjadi kegelapan. Haha rupanya, itu hanya sesaat. Kau selalu tahu cara jitu agar kepingan cahaya itu benar bercahaya. Kau kumpulkan agar utuh kembali. Dan, selamat. Kau berhasil!

Kemudian di hari-hari berikutnya, ada-ada saja yang sepertinya akan membuat bentengmu runtuh. Ia kikis secara perlahan hingga menjadi puing-puing yang hanya mengerti kelemahan. Pada saat itu, kau hanya tersenyum. Rupanya, ada yang masih mengharapkan hadirmu dalam dunianya. Saat itu pula kau berkata; “Aku kuat dan kekuatanku sama sekali tak ada padamu.”

Kau; adalah diriku sendiri.

Ika?

{ Tuesday, July 15, 2014 }
Rupanya, kau mengingkari beberapa janji dahulu sebelum kau menepati. Seberapa aku memarahimu karena janji yang kau ingkari, tak sekalipun kau menggubrisnya. Kau hanya tertawa sambil kau bubuhi beberapa alasan. Tapi, itu tak jadi masalah.
Oh ya, kita sudah melanggar janji bersama. Kau telah lewat sehari, sedangkan aku dua hari. Kau tahu itu kan?

Sebelum kutulis ini, aku tak sengaja membaca tulisanmu. Betapa bahagianya diriku karena kini kulit manggis telah ada ekstraknyaXD
Terima kasih, untuk setiap apa yang kau tulis:)

Apakah aku pernah mengajarkanmu cara memahami luka? Apakah aku pernah memberitahumu cara memaknai pedih? Apakah aku pernah membimbingmu cara merasakan kekecewaan? Kau...selalu tahu itu. Dan kau juga tahu, aku lebih memahami itu daripada kau.

Kau..selalu membantuku untuk bangkit, memapahku untuk berjalan kembali, dan memberi semangat ketika aku mulai mampu berjalan--seperti sebelumnya. Bahkan ketika semua sudah seperti biasanya, kau selalu ada sekalipun tak selalu berjalan bersamaku.

Tentang beberapa bulan yang lalu...apakah kau masih ingat? Aku yakin seyakin-yakinnya, kau tak pernah lupa saat itu. Ketika pertahananmu mulai runtuh perlahan hingga kau tak sanggup lagi untuk membangunnya kembali. Bahkan air mata tak sanggup untuk mengembalikan kepingan-kepingan itu. Hei! Jangan cengeng. Aku tak suka kau seperti itu. Bukankah kau kuat? Ayolaah, tunjukkan kekuatanmu itu. Kuharap, tak ada air mata lagi untuk hal itu. Awas saja. Jika kau melanggarnya, akan kutagih kau good day sebanyak yang kuinginkan:p Satu lagi, jangan kau letakkan lagi kekuatanmu pada orang yang awalnya kukira bisa menjadi penguatmu. Rupanya, tak ada yang berubah darinya; ia masih saja tak sejalan dengan apa yang dijanjikannya. Untung saja, sudah kuhapus dari daftar kerinduan:p

Seperti dirimu, aku ingin aku menjadi penawar kelemahanmu. Datang padaku kapanpun kau mau. Tenang saja, aku tak pernah menolak hadirmu. Berbeda dengan dirimu yang menolak hadirnya:p

Selalu ada waktu untuk berkata; "novel apa lagi mau dibeli eh?", "keren we kereeen", "sudah meko baca?", "ayok sama-samaki bacai", "nu ingatji?", "hahaha", "kodoooong", "msdtk:p", "tawwaaaa", "menurutku saya iya toh begini, kau?", "menurutku saya iya anu, toh?", "voucher apa lagi yg murah tp bagus jaringannya?-_-".
Masih banyak hal yang tak dapat terekam oleh tulisan, namun sangat jelas dalam memori.

Salam cantik #4;)

Note #16

{ Wednesday, July 9, 2014 }
beberapa hal tampak sama. nyaris seperti dahulu..
semoga genggaman silaturrahmi tak lagi merenggang..
kita sama-sama tahu, apa yang telah terjadi.

pada paragraf yang begitu singkat

{ Tuesday, July 8, 2014 }
pada paragraf yang begitu singkat, kau sempat menulis bekas luka. di sana kau dan aku dahulu dengan tabah menyusun huruf demi huruf sambil belajar membuat narasi yang bahagia. padahal akhir cerita tak bersahabat dengan waktu dan sisa rindu di sela kata terlalu lemah untuk patuh kepada air matamu. tak ada jeda untuk kau tinggal disini. biarkan aku membiarkanmu pergi.

biarkan aku membiarkanmu pergi.

pada paragraf yang begitu singkat ada ingatan yang berkarat. di sana, aku dan kau terperangkap dalam kalimat pasif yang tak paham bagaimana cara menunggu. sedangkan cintamu telah luput di titik terdekat dan langkahku telah lumpuh di tanda tanya terjauh. tak ada celah untukku pergi dari sini. biarkan aku membiarkanmu kembali.

biarkan aku membiarkanmu kembali.

-novel cinta dengan titik, bernard batubara

tapi tak ada waktu untuk kau kembali.
tak ku izinkan kau kembali.
tak usah kau kembali.