Sebelum kumulai, perlukah kau
kusapa? Sepertinya begitu. Baiklah.
Hai, Tuan. Apa kabarmu? Kuharap
kau senantiasa dalam rangkulan-Nya. Tidak ada yang lebih sakral daripada doa.
Bukankah begitu?
Kali ini kusempatkan waktuku
untuk menulis tentangmu. Bukan tentangmu maksudku, untukmu tepatnya. Semoga
saja kau berkenan. Kalau kau tanya kenapa, tak akan kujawab.
Kau bilang aku rindu? Haha tidak
Tuan, tidak. Aku hanya mengingatmu. Aku mengingat beberapa rentetan tentangmu.
Sial! Betapa ini mengganggu pagiku. Tak usah kau tanggung resikonya. Ini
ingatanku, tak usah kau campuri. Hanya saja, mau tak mau, izin tak kau izinkan,
tentangmu akan kutuliskan hingga paragraf terakhirku.
Apa kau bilang? Sudahi saja? Oh
Tuan….jangan kau paksa aku tuk menyudahi rangkaian kalimat ini. Sudah cukup kau
dan aku memutuskan, menyudahi kisah itu…
Oh ya. Kata teman-temanku, banyak
yang berubah darimu. Kali itu, masih kuragukan. Namun, kali itu pula
kuperhatikan gerak-gerikmu. Dan kali itu pula, tak ada lagi yang kuragukan. Kau
memang beda, Tuan. Bukankah ini sudah kukatakan padamu? Tapi, kau tetap saja
punya alasan untuk menyangkal persepsiku dan persepsi teman-temanku. Setelah
kucari tahu, aku tahu alasan mengapa kau demikian. Tidak usah kuungkap, aku
tahu, kau pun tahu alasannya. Ayolah, Tuan. Tidak usah pura-pura tak tahu. Aku
sudah terlalu mengenal dirimu.
Baiklah, sepertinya harus
buru-buru kuselesaikan rangkaian ini. Maka, ini paragraf terakhirku untukmu.
Kutitip satu untukmu. Tolong kau
jaga. Jaga rinduku baik-baik, Tuan.
0 komentar:
Post a Comment