Paragraf Singkatku

{ Thursday, May 29, 2014 }
Sebelum kumulai, perlukah kau kusapa? Sepertinya begitu. Baiklah.
Hai, Tuan. Apa kabarmu? Kuharap kau senantiasa dalam rangkulan-Nya. Tidak ada yang lebih sakral daripada doa. Bukankah begitu?
Kali ini kusempatkan waktuku untuk menulis tentangmu. Bukan tentangmu maksudku, untukmu tepatnya. Semoga saja kau berkenan. Kalau kau tanya kenapa, tak akan kujawab.
Kau bilang aku rindu? Haha tidak Tuan, tidak. Aku hanya mengingatmu. Aku mengingat beberapa rentetan tentangmu. Sial! Betapa ini mengganggu pagiku. Tak usah kau tanggung resikonya. Ini ingatanku, tak usah kau campuri. Hanya saja, mau tak mau, izin tak kau izinkan, tentangmu akan kutuliskan hingga paragraf terakhirku.
Apa kau bilang? Sudahi saja? Oh Tuan….jangan kau paksa aku tuk menyudahi rangkaian kalimat ini. Sudah cukup kau dan aku memutuskan, menyudahi kisah itu…
Oh ya. Kata teman-temanku, banyak yang berubah darimu. Kali itu, masih kuragukan. Namun, kali itu pula kuperhatikan gerak-gerikmu. Dan kali itu pula, tak ada lagi yang kuragukan. Kau memang beda, Tuan. Bukankah ini sudah kukatakan padamu? Tapi, kau tetap saja punya alasan untuk menyangkal persepsiku dan persepsi teman-temanku. Setelah kucari tahu, aku tahu alasan mengapa kau demikian. Tidak usah kuungkap, aku tahu, kau pun tahu alasannya. Ayolah, Tuan. Tidak usah pura-pura tak tahu. Aku sudah terlalu mengenal dirimu.
Baiklah, sepertinya harus buru-buru kuselesaikan rangkaian ini. Maka, ini paragraf terakhirku untukmu.
Kutitip satu untukmu. Tolong kau jaga. Jaga rinduku baik-baik, Tuan.

Dariku,
yang kali ini mengingatmu.

0 komentar:

Post a Comment