Teruntuk
kau,
yang terkadang membuatku berterima kasih.
yang terkadang membuatku berterima kasih.
Asal
kau tahu saja, aku menulis surat ini bukan karena keinginanku semata, tetapi
ada campur tangan dari seseorang yang kau butuhkan dulu.
Baiklah,
akan kumulai… Apakah harus kutanya kabarmu? Sepertinya tak usah, karena aku
tahu kau sedang tak baik-baik saja dan aku juga tahu sebabnya, kau sedang
dibayang-bayangi oleh keadaan menakutkan yang akan hadir setelah pertemuan.
Bukan begitu? Bilang saja kau setuju denganku.
Sebagai
bentuk penghargaanku, aku minta maaf jika dengan lancangnya menulis ini khusus
untukmu. Semoga kau tak menganggapnya ini hal yang salah. Jika ini hal yang
membuatmu tak enak, tak usah sungkan memberitahuku, telah kusediakan kolom
komentar sebagai wadah untuk kau bertutur.
Bolehkah
aku bertanya padamu? Kuharap kau mengizinkan. Tak usah jawab jika kau tak mau,
karena beberapa pertanyaan memang tak butuh jawaban. Pertanyaanku sederhana,
“Sudah sebahagia apa dirimu sekarang?” Biarkan aku berpendapat, kau lebih dari
cukup bahagia, betapa tidak sudah banyak mimpi-mimpi yang kau gapai,
sampai-sampai ada beberapa orang yang kau jatuhkan mimpi-mimpinya… Ah,
sudahlah. Maafkan diriku yang membahas ini lagi.
Kau
tahu tidak? Persepsiku tentangmu, dari dulu hingga kini tak pernah berubah,
hanya saja ada yang kutambahkan. Tak usah kusebut semuanya. Biarlah itu menjadi
persepsi pribadiku. Hanya saja, satu hal yang paling tak kusuka darimu, kau
egois. Apakah kau tak setuju? Coba deh, kau ingat-ingat pada keputusanmu
beberapa bulan yang lalu. Tapi, aku selalu menerima pendapatmu dengan pemikiran
yang rasional.
Tolong,
tak usah kau buat dadamu menggebu-gebu setelah kau baca beberapa paragraf pada
surat ini. Ini hanya sekedar surat, tak akan ada yang berubah setelah kau membacanya.
Jika kau rasa emosimu sudah sampai di ubun-ubun, hentikan saja matamu pada
baris ini. Tapi, jika kau masih kuat, itu artinya kau wajib mengontrol emosimu
yang sepertinya semakin membara. Nah, opsi mana yang kau pilih?
Hehe
benar saja pendapatku, kau tetap melanjutkannya. Terima kasih ya. Dan maaf
surat ini telah menyita sedikit waktumu.
Sebenarnya,
sudah sejak lama aku ingin menyampaikan ini, rasa terima kasih yang
sebesar-besarnya. Terima kasih untuk setiap warna yang kau torehkan, rupanya
warna itulah yang membuatku jauh lebih kuat. Bagaimana jika aku menantangmu,
lebih kuat mana diriku atau dirimu? Pemenangnya akan kita lihat pada ketakutan
yang telah kulewati atau yang akan kau jalaniB-)
Oh
ya, rasanya cukup sekian surat buatmu. Mungkin, ini surat pertama dan
terakhirku untukmu.
Sampaikan rinduku untuk Tuanmu, Nona.
Salam hangat,
0 komentar:
Post a Comment