Surat untukmu: yang berbahagia

{ Friday, May 9, 2014 }

Teruntuk kau,
yang terkadang membuatku berterima kasih.

Asal kau tahu saja, aku menulis surat ini bukan karena keinginanku semata, tetapi ada campur tangan dari seseorang yang kau butuhkan dulu.

Baiklah, akan kumulai… Apakah harus kutanya kabarmu? Sepertinya tak usah, karena aku tahu kau sedang tak baik-baik saja dan aku juga tahu sebabnya, kau sedang dibayang-bayangi oleh keadaan menakutkan yang akan hadir setelah pertemuan. Bukan begitu? Bilang saja kau setuju denganku.

Sebagai bentuk penghargaanku, aku minta maaf jika dengan lancangnya menulis ini khusus untukmu. Semoga kau tak menganggapnya ini hal yang salah. Jika ini hal yang membuatmu tak enak, tak usah sungkan memberitahuku, telah kusediakan kolom komentar sebagai wadah untuk kau bertutur.

Bolehkah aku bertanya padamu? Kuharap kau mengizinkan. Tak usah jawab jika kau tak mau, karena beberapa pertanyaan memang tak butuh jawaban. Pertanyaanku sederhana, “Sudah sebahagia apa dirimu sekarang?” Biarkan aku berpendapat, kau lebih dari cukup bahagia, betapa tidak sudah banyak mimpi-mimpi yang kau gapai, sampai-sampai ada beberapa orang yang kau jatuhkan mimpi-mimpinya… Ah, sudahlah. Maafkan diriku yang membahas ini lagi.

Kau tahu tidak? Persepsiku tentangmu, dari dulu hingga kini tak pernah berubah, hanya saja ada yang kutambahkan. Tak usah kusebut semuanya. Biarlah itu menjadi persepsi pribadiku. Hanya saja, satu hal yang paling tak kusuka darimu, kau egois. Apakah kau tak setuju? Coba deh, kau ingat-ingat pada keputusanmu beberapa bulan yang lalu. Tapi, aku selalu menerima pendapatmu dengan pemikiran yang rasional.

Tolong, tak usah kau buat dadamu menggebu-gebu setelah kau baca beberapa paragraf pada surat ini. Ini hanya sekedar surat, tak akan ada yang berubah setelah kau membacanya. Jika kau rasa emosimu sudah sampai di ubun-ubun, hentikan saja matamu pada baris ini. Tapi, jika kau masih kuat, itu artinya kau wajib mengontrol emosimu yang sepertinya semakin membara. Nah, opsi mana yang kau pilih?

Hehe benar saja pendapatku, kau tetap melanjutkannya. Terima kasih ya. Dan maaf surat ini telah menyita sedikit waktumu.

Sebenarnya, sudah sejak lama aku ingin menyampaikan ini, rasa terima kasih yang sebesar-besarnya. Terima kasih untuk setiap warna yang kau torehkan, rupanya warna itulah yang membuatku jauh lebih kuat. Bagaimana jika aku menantangmu, lebih kuat mana diriku atau dirimu? Pemenangnya akan kita lihat pada ketakutan yang telah kulewati atau yang akan kau jalaniB-)

Oh ya, rasanya cukup sekian surat buatmu. Mungkin, ini surat pertama dan terakhirku untukmu.

Sampaikan rinduku untuk Tuanmu, Nona.

Salam hangat,
dariku yang namanya selalu fasih kau eja.

0 komentar:

Post a Comment