Sebelum saya
merangkai beberapa paragraf, saya kumpulkan kekuatan-kekuatan agar menjadi
kekuatan yang luar biasa. Dan, berhasil!
Tak ada yang pernah bisa berjalan lurus. Suatu saat
kau akan menemui persimpangan. Hingga di ujung jalan, kau memilih.
Sial!
Lagi-lagi, kenangan berhasil menyita waktuku, menarik perhatian,
menarik-ulurkan perasaanku, membuat pikiranku terombang-ambing. Sesak. Kali
ini, aku sejenak menoleh ke belakang. Melihat berapa banyak jejak yang masih
berbekas. Rupanya, hanya beberapa yang benar-benar lenyap. Sekuat apapun kau
koyak, yang lenyap akan tetap lenyap. Hingga bersama angan-angan, kau merindu.
Kau rindu padanya, kau rindu tentangnya, kau rindu kebiasaan-kebiasaan yang
kini tak lagi kau lakukan. Bahkan kau ingin semua kembali, seperti sedia kala.
Tapi, kau tak bisa memaksa, sebab ia memilih pergi dan akan merasakan
kebahagiaan baru. Tak bisa kau menolak, ini benar-benar nyata. Namun, kau tetap
menunggu. Menunggu hadirnya. Menunggu ia menepati janjinya, yang katanya tak
akan meninggalkanmu dan tetap bersamamu, selamanya. Yang baru kau ketahui bahwa
ia mendusta pada kata ‘selamanya’. Lagi-lagi, kau tetap menunggu, menunggu, dan
menunggu. Hingga kau menyadari, ia takkan pernah kembali.
Np. Di Ujung Jalan by (bukan) Samsons

0 komentar:
Post a Comment