Selamat pagi, selamat siang, selamat sore, selamat
malam, selamat tengah malam, selamat subuh, selamat menjelang pagi, selamat……
selamat apa lagi yang kurang? Lengkapi saja. Semoga pelengkap itu menjadi
penyempurna.
Kita sebagai manusia, selalu saja ingin ini dan itu.
Setelah diberi ini maupun itu, bahkan kita masih selalu ingin yang lebih. Lupakah
kita akan cara bersyukur? Lalu bagaimana dengan khilaf? Ya, terkadang manusia
memang khilaf, tapi jika terjadi berulang, apakah masih bisa disebut khilaf? Tidak,
itu telah menjadi suatu kesalahan. Kesalahan yang mungkin saja sudah tak dapat
kita benarkan.
Hati mana yang tak senang ketika menemukan
kebahagiaannya ada pada diri seseorang? Hati mana yang tak mendamba ketika
mengetahui bahwa tak hanya hatinya yang merasa demikian? Hati mana yang tak
bersuka cita ketika mengetahui bahwa dua hati yang berbeda telah mampu
disatukan? Dan, hati mana yang merunduk ketika semuanya lenyap ditelan
keegoisan? Duhai hati yang tersakiti, bersabarlah. Hidup ini adil. Kau hanya
perlu menunggu waktu yang tepat untuk penjaga hati yang lebih tepat.
Ketika menitipkan hatimu pada seseorang, apakah saat
itu kau yakin dia akan menjaganya? Menjaga hatimu agar tetap disana tanpa
tersakiti bahkan terluka? Ya, kau yakin. Bahkan sangat yakin. Kini, teriring
waktu dan keadaan, hatimu mulai dibuat perih. Sayatan demi sayatan ia goreskan.
Melukaimu…melukaimu lebih dalam…semakin dalam…dan lebih dalam lagi…. Ketika cerita
yang kau buat dulu kini ia tumpuk oleh cerita barunya. Hati yang kau titipkan
dulu, perlahan ia geser oleh hati yang baru. Tidak, ia tidak membuang hatimu. Hanya
saja, ia pindahkan ke tempat yang berbeda. Biarkanlah. Biarlah ia nikmati yang
mungkin membuatnya lebih bahagia, setidaknya untuk saat ini.
Hingga akhirnya, ia akan mencari dimana dulu ia
letakkan hatimu. Dia akan menyadari, seberapa jauh ia menggeser hati yang
seharusnya ia jaga. Yang seharusnya tak pernah dipindahkan. Ironisnya, kini ia
mengembalikan hatimu ke tempat awalnya. Lalu, dimana hati yang sempat
menggantikan? Oh, rupanya hanya sementara. Ketika ditanya kenapa, maka ia hanya
menjawab; ‘Memang hanya sejenak waktu yang kubutuhkan untuk menggeser hatimu,
tapi aku tak punya banyak waktu untuk menerima kenyataannya. Hatimu itu,
tempatnya disini, bukan disana. Tak ada hati yang mampu menggesernya.’ Egois
kah?
Berhentilah
menyertakan beberapa hati pada permainanmu. Jika hatimu tak mampu menjaga
keduanya, cukup kau jaga satu saja. Jangan kau sakiti salah satunya, apalagi
keduanya.

0 komentar:
Post a Comment