Hati siapa lagi yang akan kau koyak?

{ Thursday, June 12, 2014 }


Selamat pagi, selamat siang, selamat sore, selamat malam, selamat tengah malam, selamat subuh, selamat menjelang pagi, selamat…… selamat apa lagi yang kurang? Lengkapi saja. Semoga pelengkap itu menjadi penyempurna.

Kita sebagai manusia, selalu saja ingin ini dan itu. Setelah diberi ini maupun itu, bahkan kita masih selalu ingin yang lebih. Lupakah kita akan cara bersyukur? Lalu bagaimana dengan khilaf? Ya, terkadang manusia memang khilaf, tapi jika terjadi berulang, apakah masih bisa disebut khilaf? Tidak, itu telah menjadi suatu kesalahan. Kesalahan yang mungkin saja sudah tak dapat kita benarkan.

Hati mana yang tak senang ketika menemukan kebahagiaannya ada pada diri seseorang? Hati mana yang tak mendamba ketika mengetahui bahwa tak hanya hatinya yang merasa demikian? Hati mana yang tak bersuka cita ketika mengetahui bahwa dua hati yang berbeda telah mampu disatukan? Dan, hati mana yang merunduk ketika semuanya lenyap ditelan keegoisan? Duhai hati yang tersakiti, bersabarlah. Hidup ini adil. Kau hanya perlu menunggu waktu yang tepat untuk penjaga hati yang lebih tepat.

Ketika menitipkan hatimu pada seseorang, apakah saat itu kau yakin dia akan menjaganya? Menjaga hatimu agar tetap disana tanpa tersakiti bahkan terluka? Ya, kau yakin. Bahkan sangat yakin. Kini, teriring waktu dan keadaan, hatimu mulai dibuat perih. Sayatan demi sayatan ia goreskan. Melukaimu…melukaimu lebih dalam…semakin dalam…dan lebih dalam lagi…. Ketika cerita yang kau buat dulu kini ia tumpuk oleh cerita barunya. Hati yang kau titipkan dulu, perlahan ia geser oleh hati yang baru. Tidak, ia tidak membuang hatimu. Hanya saja, ia pindahkan ke tempat yang berbeda. Biarkanlah. Biarlah ia nikmati yang mungkin membuatnya lebih bahagia, setidaknya untuk saat ini.

Hingga akhirnya, ia akan mencari dimana dulu ia letakkan hatimu. Dia akan menyadari, seberapa jauh ia menggeser hati yang seharusnya ia jaga. Yang seharusnya tak pernah dipindahkan. Ironisnya, kini ia mengembalikan hatimu ke tempat awalnya. Lalu, dimana hati yang sempat menggantikan? Oh, rupanya hanya sementara. Ketika ditanya kenapa, maka ia hanya menjawab; ‘Memang hanya sejenak waktu yang kubutuhkan untuk menggeser hatimu, tapi aku tak punya banyak waktu untuk menerima kenyataannya. Hatimu itu, tempatnya disini, bukan disana. Tak ada hati yang mampu menggesernya.’ Egois kah?

Berhentilah menyertakan beberapa hati pada permainanmu. Jika hatimu tak mampu menjaga keduanya, cukup kau jaga satu saja. Jangan kau sakiti salah satunya, apalagi keduanya.

Oke. Selamat menjaga hati;)

0 komentar:

Post a Comment