Pernah sekali aku mengagumi seseorang, entah bermula darimana. Lama aku mengaguminya, hingga rasa
kagum itu menjelma menjadi sayang. Aku menyayanginya. Sepertinya pikiranku
bertolak dengan hukum yang ada, bahwa ‘menyayangi tak harus memiliki’. Kucoba
mendekatkan diri dengannya dengan harap perasaanku berbalas. Pesan singkat
dengannya menjadi rutinitasku. Aku bahagia. Hingga akhirnya, kebahagiaanku
terenggut. Terenggut oleh waktu, keadaan, dan beberapa sosok yang sangat
berpengaruh dan dekat denganku, kala itu. Kala itu pula, kuminimalkan
rutinitasku. Kemudian kucoba kuminimalkan perasaanku. Kucoba…tapi ini sulit.
Begitu sulit. Setidaknya, sudah kuminimalkan rutinitasku dahulu. Aku tahu, aku
butuh waktu yang lama untuk meminimalkan rasaku dahulu. Rupanya, aku menyayangi
orang yang sepertinya sama sekali tak pernah berniat membalas rasaku. Tak apa.
Aku bukan pilihan hatimu... Semoga kau bahagia.
Itu
ceritamu setahun yang lalu, bukan? Masih fasihnya kurangkai cerita-ceritamu
dahulu. Ini hanya beberapa, tidak se-detail yang kau ingat. Aku tahu, kau masih
hafal alur lengkap kisahmu dahulu. Ini cerita lalu. Tentang kebahagiaanmu,
kegalauanmu, kesakitanmu, dan perjuanganmu… aku selalu tahu itu. Dan kau lebih
tahu kenapa aku banyak tahu tentang kisahmu ini.
Kemarin
kau bilang beberapa kalimat yang membuatku sedikit agak terkejut. Aku kira kau
setia pada perasaanmu. Aku kira kau tak ingin pergi dari rasamu. Ada apa? Kau
kenapa? Apakah kau lelah? Apakah kau menyerah pada perasaanmu yang tak sejalan
dengan logikamu? Kurasa, pilihanmu tepat. Ini cukup. Sudah cukup kau biarkan
sayangmu tanpa balas. Biarkanlah perasaanmu melayang. Jauh…jauh. Berhenti kau
fokuskan hatimu pada hati yang tak tepat. Ada hati yang lebih tepat di luar
sana. Ada mulut yang membutuhkan telingamu. Ada mata yang membutuhkan
tatapanmu. Ada kepala yang membutuhkan pundakmu. Ada tubuh yang membutuhkan
rangkulanmu. Ada jiwa yang membutuhkan ragamu. Ayolaaah, jangan kau biarkan
dirimu terperangkap lama di sana. Oh aku tahu, apakah kau sudah terperosok,
bahkan sangat jauh? Tenanglah, aku akan membantumu. Menarikmu perlahan,
membantumu berjalan, bahkan akan kubawa kau berlari semampuku, akan kutopang
ketika kau terjatuh. Akan kuajarkan kau cara untuk melupakan sebagian kisahmu dahulu.
Tapi tak pernah kuizinkan kau melupakan seluruhnya. Seutuhnya. Biarkanlah rindu
membawamu pada kenangan. Tapi jangan biarkan kenangan membuatmu semakin
merindu. Jangan kau terlalu larut merindu. Kau harus tahu, banyak hal yang bisa
kau pelajari dari masa lalumu. Tak peduli itu indah ataupun kelam. Tidak ada
yang sia-sia. Kekuatanmu akan bertambah ketika kau pergi dan meninggalkan apa
yang tak lagi pantas kau perjuangkan. Acuhkan bayang-bayangnya yang selalu
menghantui hari-harimu. Tanggalkan kesedihanmu, temukan kebahagianmu. Jangan
takut. Akan kubebaskan kau, kemanapun kau mau. Kubiarkan kau, sejauh mana kau
ingin. Asal kau ingat pulang dan ceritakan padaku apapun yang kau
alami—selama tak kulihat ragamu, selama tak kugapai tanganmu, selama tak kudengar
kabarmu. Dengan senang hati, akan kusimak setiap detail ceritamu.
Pergilah….
Kemudian
pulanglah. Kutunggu kau dengan cerita-cerita barumu.
Izinkanlah
jarak menjadi cerita kita kini. Maksudku, aku dan kau.
Bukan kita.
Bukan kita.
Kau bisa.
Kau sanggup. Kau kuat, teman ceritaku.

0 komentar:
Post a Comment