you have to let go

{ Thursday, July 3, 2014 }
Pernah sekali aku mengagumi seseorang, entah bermula darimana. Lama aku mengaguminya, hingga rasa kagum itu menjelma menjadi sayang. Aku menyayanginya. Sepertinya pikiranku bertolak dengan hukum yang ada, bahwa ‘menyayangi tak harus memiliki’. Kucoba mendekatkan diri dengannya dengan harap perasaanku berbalas. Pesan singkat dengannya menjadi rutinitasku. Aku bahagia. Hingga akhirnya, kebahagiaanku terenggut. Terenggut oleh waktu, keadaan, dan beberapa sosok yang sangat berpengaruh dan dekat denganku, kala itu. Kala itu pula, kuminimalkan rutinitasku. Kemudian kucoba kuminimalkan perasaanku. Kucoba…tapi ini sulit. Begitu sulit. Setidaknya, sudah kuminimalkan rutinitasku dahulu. Aku tahu, aku butuh waktu yang lama untuk meminimalkan rasaku dahulu. Rupanya, aku menyayangi orang yang sepertinya sama sekali tak pernah berniat membalas rasaku. Tak apa. Aku bukan pilihan hatimu... Semoga kau bahagia.

Itu ceritamu setahun yang lalu, bukan? Masih fasihnya kurangkai cerita-ceritamu dahulu. Ini hanya beberapa, tidak se-detail yang kau ingat. Aku tahu, kau masih hafal alur lengkap kisahmu dahulu. Ini cerita lalu. Tentang kebahagiaanmu, kegalauanmu, kesakitanmu, dan perjuanganmu… aku selalu tahu itu. Dan kau lebih tahu kenapa aku banyak tahu tentang kisahmu ini.
Kemarin kau bilang beberapa kalimat yang membuatku sedikit agak terkejut. Aku kira kau setia pada perasaanmu. Aku kira kau tak ingin pergi dari rasamu. Ada apa? Kau kenapa? Apakah kau lelah? Apakah kau menyerah pada perasaanmu yang tak sejalan dengan logikamu? Kurasa, pilihanmu tepat. Ini cukup. Sudah cukup kau biarkan sayangmu tanpa balas. Biarkanlah perasaanmu melayang. Jauh…jauh. Berhenti kau fokuskan hatimu pada hati yang tak tepat. Ada hati yang lebih tepat di luar sana. Ada mulut yang membutuhkan telingamu. Ada mata yang membutuhkan tatapanmu. Ada kepala yang membutuhkan pundakmu. Ada tubuh yang membutuhkan rangkulanmu. Ada jiwa yang membutuhkan ragamu. Ayolaaah, jangan kau biarkan dirimu terperangkap lama di sana. Oh aku tahu, apakah kau sudah terperosok, bahkan sangat jauh? Tenanglah, aku akan membantumu. Menarikmu perlahan, membantumu berjalan, bahkan akan kubawa kau berlari semampuku, akan kutopang ketika kau terjatuh. Akan kuajarkan kau cara untuk melupakan sebagian kisahmu dahulu. Tapi tak pernah kuizinkan kau melupakan seluruhnya. Seutuhnya. Biarkanlah rindu membawamu pada kenangan. Tapi jangan biarkan kenangan membuatmu semakin merindu. Jangan kau terlalu larut merindu. Kau harus tahu, banyak hal yang bisa kau pelajari dari masa lalumu. Tak peduli itu indah ataupun kelam. Tidak ada yang sia-sia. Kekuatanmu akan bertambah ketika kau pergi dan meninggalkan apa yang tak lagi pantas kau perjuangkan. Acuhkan bayang-bayangnya yang selalu menghantui hari-harimu. Tanggalkan kesedihanmu, temukan kebahagianmu. Jangan takut. Akan kubebaskan kau, kemanapun kau mau. Kubiarkan kau, sejauh mana kau ingin. Asal kau ingat pulang dan ceritakan padaku apapun yang kau alami—selama tak kulihat ragamu, selama tak kugapai tanganmu, selama tak kudengar kabarmu. Dengan senang hati, akan kusimak setiap detail ceritamu.
Pergilah….
Kemudian pulanglah. Kutunggu kau dengan cerita-cerita barumu.
Izinkanlah jarak menjadi cerita kita kini. Maksudku, aku dan kau.
Bukan kita.
Kau bisa. Kau sanggup. Kau kuat, teman ceritaku.
Percayalah, kak.

0 komentar:

Post a Comment